catatan mahasiswa labil

Cerita Inspirasi Orang Lain

ISTIQOMAH NURFITRI

H34100041

LASKAR 18

Dia orang hebat. Pertama saya mengenalnya saat lomba antar sekolah dasar. Dia hebat berpidato dan berpuisi. Suara dan tutur katanya khas, bisa mengundang setiap orang untuk diam dan mendengarkan. Di sekolah menengah pertama saya bertemu lagi dengan dia. Kami satu sekolah, tapi tidak satu kelas. Dia masih tetap hebat. Penampilannya sederhana, tidak mengikuti tren namun tetap rapi dan pantas. Jiwa kepemimpinannya mulai terlihat dan kemampuan berbicaranya tetap nomer satu, tak heran dia jadi ketua OSIS. Pengetahuan agamanya luas, dia sering diandalkan orang lain untuk dijadikan tempat bertanya. Dia juga peserta OSN bidang fisika. Luar biasa.

Di sekolah menengah atas, saya kembali masuk satu sekolah dengan dia, dan kali ini saya berkesempatan untuk merasakan satu kelas dengannya. Dia masih saja hebat. Penampilannya masih tetap sederhana, jiwa kepemimpinannya masih terasa, kemampuan berbicaranya semakin dahsyat, pengetahuan agama dan fisikanya tidak diragukan. Ternyata dia juga paham computer, design grafis, web editing, sampai aplikasi-aplikasi apalah yang saya tak mengerti. Main gitarnya jago, keyboard juga bisa sedikit-sedikit. Matematika dan kimianya selalu mendapat nilai bagus. Baru kelas satu dia sudah diangkat jadi sekertaris Majelis Permusyawaratan Kelas. Benar-benar hebat.

Saya sempat bekerjasama dengannya membuat pentas seni yang melibatkan seluruh penghuni kelas. Entah bagaimana bentuk saya tanpa dia. Dari kerjasama itu, saya seakan-akan diajari berbagai hal. Pentingnya planning, kepercayaan, kompetensi, dan profesionalitas, asyiknya sebuah kesibukan dan betapa pentingnya kesabaran. :)

Semakin mengenalnya dan tau kekurangannya, semakin kagum saya dengannya, dan semakin saya yakin dengan kehebatannya. Ternyata dia dari keluarga yang walaupun berkecukupan, namun tidak berlebih. Rumahnya kecil dan benar-benar padat. Hebat bukan? Dengan kondisi seperti itu dia bisa tumbuh menjadi sosok yang benar-benar bertalenta dan memiliki begitu banyak keahlian. Dia berhasil membuat setiap orang yang kenal dengannya membutuhkannya. Dia berhasil membuat ada saja orang yang meneriakkan namanya untuk meminta bantuan setiap harinya. Saya salut. Benar-benar salut.

Di akhir tahun, saat banyak teman-teman saya membayar mahal untuk masuk sebuah universitas, dia berusaha mati-matian mencari universitas di pulau jawa yang menyediakan beasiswa. Saya pribadi entah kenapa selalu terdorong untuk mendoakan yang terbaik untuknya. Dan saya yakin teman-teman yang lain juga selalu mendoakannya. Dia ikuti semua tes, dan dia mengalami cukup banyak kegagalan. Dia tetap tegar, dia bahkan sering dijadikan konsultan pemilihan jurusan oleh teman-teman saya yang masih bingung ingin memilih jurusan apa. Hingga bulan Juni, dia tak kunjung mendapatkan universitas.

Setiap melihat atau mendapatkan berita tentang beasiswa, yang terfikir adalah wajahnya. Saya dan teman-teman bergantian memberikan informasi tes beasiswa disana-sini. Saya tahu persis betapa inginnya dia kuliah di pulau jawa. Mengembangkan pengetahuannya, organisasinya, rasa ingin tahunya, tekat belajarnya.

Bulan Juli, saat pengumuman SNMPTN, dia lolos di Tehnik informatika salah satu universitas negeri di sumatera. Dia sudah pasrah dan ikhlas, walaupun ada 2 tes beasiswa lagi yang belum diumumkan, namun dia pesimis. Dia bisa menerima kalaupun harus kuliah di sumatera. Tapi ternyata Allah punya rencana lebih indah. 2 minggu seletah pengumuman SNMPTN, surat dari salah satu universitas swasta terkemuka di Jakarta tiba di rumahnya. Ternyata dia lulus ilmu computer di sana dengan beasiswa penuh dan uang saku setiap bulannya. Menyusul setelahnya, pengumuman tahap kedua tes beasiswa ke jepang, dia bisa mengikuti tes tahap ketiganya. Subhanallah. :)

Sampai saat ini saya masih berhubungan baik dengannya. Dia masih orang hebat di mata saya. Inspirasi yang kuat untuk juga menjadi orang hebat. Saya selalu berdoa yang terbaik buat dia. 😀

September 15th, 2010 at 7:52 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink


Cerita Inspirasi Diri Sendiri

ISTIQOMAH NURFITRI

H34100041

LASKAR 18

Baru saja masuk ke kampus IPB, saya yang tergabung dalam angkatan 47 hampir setiap weekend disuguhi dengan bermacam-macam acara. Di acara-acara itu, dihadirkan pembicara hebat yang menanamkan semangat untuk menjadi ‘seseorang’ di kampus. Bukan hanya menjadi mahasiswa yang belajar dan belajar, namun harus memberikan kontribusi real dan prestasi-prestasi gemilang. Hampir setiap narasumber yang dihadirkan menyarankan untuk membuat target-target yang bukan hanya dipikirkan dan dituliskan, namun juga harus ada langkah-langkah nyata untuk mewujudkannya satu demi satu. Selain itu, pembicara yang datang juga mengatakan bahwa sangat penting untuk membuat agenda harian, dimana kita bisa menuliskan hal-hal yang ingin kita lakukan setiap harinya, agar hari-hari kita selalu bermanfaat.

Saya secara pribadi mengaminkan pernyataan semua pembicara itu. Saya mulai membuat target-target, dan setiap hari apa yang saya lakukan selalu saya tuliskan dulu pada agenda harian saya. Saya bisa dibilang penuh semangat saat itu, bahkan terlalu bersemangat. Teman sekamar saya sampai bingung, karena saya sering pergi pagi walaupun jadwal kuliah siang. Sekalinya tak pergi pagi, saya pasti bolak-balik kamar. Jangan salah, kamar saya di lantai 5 gedung rusunawa. Haha. 😀

­­Sebulan sudah saya diasrama, badan saya sering panas mendadak tapi juga langsung normal mendadak. Saya pikir biasalah, namanya juga lingkungan baru, kesibukan baru, rutinitas baru, tubuh belum terbiasa. Namun kemudian, demam itu muncul dibarengi dengan pusing saat berjalan. Saya pikir, mungkin darah rendah atau minus kacamata saya bertambah. Saya cuek saja, toh belum terlalu dirasa mengganggu. Tapi lama-kelamaan pusing itu saya rasakan setiap saat, dan demamnya juga semakin sering. Maka pergilah saya ke poliklinik. Kata dokter, tak ada masalah serius, saya hanya perlu istirahat dan minum obat.

Esok paginya demam hilang, tapi pusing belum hilang. Saya tetap berutinitas seperti biasa, bahkan sore harinya ikut temu laskar, ada acara lari-lari di bawah hujan lagi. Malamnya saya tepar, panas tinggi, pusing, ditambah sakit di bagian perut. Saya istirahat penuh, tidur melulu. Cuma bangun kalau solat dan makan. Porsi makan saya juga berkurang, hanya setengah kalau dibanding biasanya, Sampai esok siangnya, saya hanya tidur. Jam 12 siang saya turun karena ada kuliah jam satu.

Saya makan siang dulu di Agrimart, tapi baru 3 suap perut saya mual dan akhirnya saya muntah ditonton tukang ojek. Haha tragis. 😛 Saya tidak jadi kuliah, dari pada kenapa-kenapa di kelas. Sampai kamar, teman saya membelikan makan siang baru, dan baru satu suapan saya muntah lagi. Setelah itu, setiap makanan masuk di tenggorokan saya, semua langsung saya muntahkan. Saya tidak tahan, akhirnya saya putuskan untuk menelefon orangtua saya.

Esoknya, tante saya datang menjemput. Saya langsung periksa darah, dan ternyata saya kena hepatitis. Untungnya belum terlalu parah. Saya diberi banyak obat, tapi saya masih sering muntah. Akhirnya ayah saya datang ke Bogor. Saya merasa bersalah, nyusahin orangtua, bikin mereka khawatir.

Tapi untungnya seminggu kemudian saya sembuh. Ayah saya berkeras agar saya pindah kamar. Akhirnya saya pun pindah kamar ke lantai 3, meninggalkan teman-teman saya yang sudah sebulan saya kenal, sudah seperti keluarga saya. Saya benar-benar harus berkorban banyak karena hepatitis. Sedih.

Dari sini saya belajar banyak hal. Saya hanya ingin berbagi, dan mudah-mudahan pengalaman saya ini bisa menginspirasi. Intinya, kita harus menjaga gaya hidup sehat. Makan pada waktunya, jangan makan menunggu lapar. Penyesalan itu selalu datang belakangan. Akibat pola makan yang berantakan bisa fatal. Saya pribadi merasa sehat-sehat saja, memang fisik saya bertambah kuat (bagaimana tidak, setiap hari olah raga naik-turun lantai 5), tapi ternyata organ dalam saya tidak. Organ dalam saya belum siap dengan semangat baru saya, dengan kesibukan baru saya, dan dengan pola makan baru saya yang berantakan. Organ dalam saya hancur. Saya harap tidak ada lagi saya-saya yang lain, yang menyesal karena tidak berhasil menjaga tubuh sendiri. Jaga tubuh kalian, sayangi tubuh kalian. Karena sehat itu mahal. Terlalu banyak hal berharga yang tidak perlu terlewatkan karena alasan sakit. :)

September 15th, 2010 at 7:51 am | Comments & Trackbacks (0) | Permalink